Hari Ke-51 PKL: Kesana!

Hari ini merupakan hari ke 51 saya PKL di Excellent, tepatnya pada hari Senin 16 Maret 2020. Sekarang sudah waktunya untuk mempercepat pengerjaan tugas yang belum selesai. Karena sudah tugas masih banyak yang belum selesai, kemarin saja saya sudah ditanya sama mas Ridwan progress buku sudah sampai mana, dan disuruh untuk segera diselesaikan. Ini bulan terakhir waktu untuk mengerjakan buku, karena bulan depan sudah harus fokus pada pembuatan laporan PKL saya.

Hari ini semangat saya untuk menyelesaikan buku pun berkobar, dari rumah sudah memikirkan apa yang mau saya tulis nanti. Di sepanjang perjalanan pun juga begitu. Saya berangkat dari rumah seperti biasa jam 7. Sampai di kantor masih sepi, hanya mang Gun yang baru datang. Saya menunggu diluar, Bayu mengetuk pintu, pintu saat itu dalam kondisi terkunci dari dalam. 
Tak beberapa lama setelah itu mang Gun datang dan membukakan pintu. Saya langsung masuk, ke tempat duduk dan membuka jaket saya, gerah rasanya, padahal ini pagi. Saya kebelakang seperti biasa, mencuci muka. Setelah itu saya langsung mencoba untuk mendinginkan badan, mengambil beberapa tisu dan berdiri di bawah AC sambil mengelap muka yang basah, dan juga bagian-bagian yang basah. 
Tidak lama saya di situ, saya langsung ke depan, menjaga depan, lungguh ning sofa ngarep karo dolanan HP. Karena saat itu belum ada yang datang selain kami bertiga. Saya membuka email dan blog saya. Ada balasan email dari pak boss Vavai, ucapan terima kasih dan ada tambahan “baru kali ini laporannya panjang”. Saya berfikir sebentar, lalu membuka laporan saya yang kemarin-kemarin, membacanya, membandingkannya sama yang kemarin saya kirim, yang di balas seperti itu oleh pak boss. 
Saya lihat tidak terlalu banyak perbedaan dari laporan saya yang sebelumnya sama yang kemarin. Malah ada yang jumlahnya lebih banyak. Saya bingung balasnya gimana, jadi ya saya hanya membacanya dan tidak membalasnya.
Sudah datang mbak Indah, tidak lama setelah itu mbak Alifa yang datang, saya langsung kembali ke tempat duduk saya lagi dan mulai mempersiapkan peralatan. Laptop, keyboard, mouse, dan lain-lain.
Setelah itu saya lanjut dengan menyalakan windows yang ada di VMware, meremotenya dan langsung mulai bekerja. 
Semangat yang tadi pagi belum hilang, jadi saya langsung membuka file project saya. Terakhir saya baca sudah sampai pada macam-macam module. Bingung saya cara menjelaskannya bagaimana, karena saya hanya tahu beberapa, itu pun sangat terbatas. Padahal di website dokumentasi banyak sekali modulnya. 
Saya pun mulai menulis apa yang saya ketahui terlebih dahulu, baru setelah buntu saya mencari referensi lain.

Menulis, tak tik tak tik…..

Saya sudah membuka semua, kecuali satu, telegram. Saya lupa membuka telegram di desktop, jadi saya tidak mendapat notifikasi jika ada telegram masuk dari salah satu tim. Benar saja ketika saya sedang menulis saya mendapat telegram dari mas Afandi, saya disuruh untuk mengantar mas Afandi. Saya diingatkan bayu untuk membuka telegram.

Saya langsung ke depan, menemui mas Afandi bertanya ingin di diantar kemana, saya langsung disuruh keluar dan mengeluarkan motor. Ketika jalan saya masih belum dikasih tahu mau kemana, dia hanya berkata “kesana”. Di perjalanan saya bertanya mau kemana sebenarnya, karena belum jelas tujuannya kemana jadi saya agak ragu, hanya berjalan pelan. Akhirnya dia menjawab, mau ke ATM katanya. Yoshh akhirnya jelas, saya pun jadi agak cepat membawa motornya.

Sampai di ATM, mas Fandi langsung masuk, mengambil uang, keluar lagi, saya kira sudah, tapi masih lanjut lagi perjalanannya. Kali ini pun sama, mas Fandi hanya berkata “kesana”. Saya hanya menurut, dan langsung menuju ke arah yang ditunjuknya. “Lurus”, “kiri”, “harusnya tadi ke situu, yaudah lurus aja”, “kiri”, “lurus aja”, “nanti yang belok ke yang ada merah-merahnya itu”.

Sampai juga akhirnya, ternyata mas Fandi mengarahkan ke tempat seperti pasar, tapi didalamnya apotik semua, saya sudah membaca tempat apa itu, tapi lupa :p.

Berkeliling, mencari masker dan hand sanitizer. Akhirnya menemukan yang cocok. Saya lumayan terkejut karena masker 1 pack harganya sampai 300 ribu. Dan juga stoknya terbatas, kami saja harus berputar-putar sampai menemukan masker itu.

Masker sudah ketemu, kali ini mencari hand sanitizer. Sama seperti masker, sama mahalnya dan sama langkanya. Satu botol kecil saja harganya 42 ribu, hanya satu botol kecil.

Selesai membeli, kami lanjut jalan lagi. Sama juga seperti tadi, “kesana”. Ngenggg.

Sudah hampir sampai kantor, dan mas Fandi baru bilang belok dulu ke Indomaret. Saya langsung belok ke Indomaret, saya tidak ikut masuk, hanya menunggu diluar. Mas Fandi kembali dengan tangan kosong. Bilang ke saya “beli beras dulu, balik lagi kesana”. Langsung gass, mas Fandi menjelaskan, tapi sangat lirih, saya tidak bisa mendengarnya. Dan yaa, saya kebablasan, akhirnya harus putar balik, padahal lalu lintas sedang ramai.

Sampai juga akhirnya toko sembako. Saya hanya menunggu, mas Fandi yang melakukan transaksi.

 Akhirnya selesai juga tawar menawarnya, akhirnya ams Fandi mengatakan dengan jelas kali ini mau kemana “udah, kembali ke kantor”. Saya pun mengemudi dengan lumayan cepat, karena juga sudah jelas tujuannya kemana, dan juga saya juga sudah hafal jalannya. 

Sampai di kantor, saya disuruh mas Afandi untuk memakai hand sanitizer terlebih dahulu. Saya pun segera memakainya.

Saya melihat mobilnya pak boss di depan, dan benar saja di dalam sudah ada pak boss yang sudah menunggu saya dan mas Fandi, sudah menunggu lama katanya, ditunggu untuk mengikuti briefing.

Saya membawa barang belanjaan dan memberikannya ke mas Fandi. Saya segera duduk.

Tadi saya dan mas Fandi yang ditunggu, sekarang giliran mang Gun yang tidak ada, padahal tadi sudah diperingatkan untuk tidak keluar dulu. Akhirnya mang Gun pun di telfon salah satu tim, disuruh untuk kembali lagi.

Menunggu lagi, saya menunggu sambil membaca beberapa artikel di feedly.

Tak lama mang Gun pun datang, dan pak boss pun segera memulai briefing tersebut. Saya lupa urutan briefingnya apa saja, tapi yang jelas intinya bagaimana Excellent menyikapi Virus yang sedang booming kali ini. Covid-19.

Memang Covid-19 sudah sampai di Indonesia, dan juga penyebarannya cukup cepat menurut saya. Saya harap semua tim Excellent termasuk saya tidak terkena virus tersebut.

Pacitan sendiri, kota kelahiran saya sudah ada satu orang yang terkena virus. Tapi tidak heran karena orang yang terkena itu kerjanya di Hongkong katanya. Pacitannya pun jauh dari kampung saya, saya harap juga keluarga saya di kampung tidak terkena virus tersebut.

Kembali lagi ke briefing. 

Pak boss juga mengkoreksi kelakuan Bayu, saya tidak tahu apa itu, karena penasaran saya pun memeriksanya. Komentar bahasa Inggris di salah satu artikelnya sendiri. Bahasa inggris, saya tidak tahu artinya, tapi kelihatannya kata-kata kasar. Gak salah sih kalau pak boss sampai memperingatkan Bayu. 
Saya pun kena cipratan juga, tentang artikel yang saya tulis kemarin. 
Briefing yang lainnya hanya saya dengarkan. 
Selesai briefing sekitar jam 10, dan saat itu situasi masih ramai, saya juga belum bisa kalau fokus untuk menulis. 
Akhirnya waktu istirahat pun datang juga. Saya pun memikirkan mau makan apa. Saya mendengar obrolan tim lain yang ingin makan ayam ippo. Saya tau tempatnya, dan saya juga sudah lama pengen makan ayam itu. Saya pun berangkat menuju ke ippo.
 
Ohh iya, dari pagi saya sudah berencana untuk ke toko komputer untuk bertanya sesuatu, tokonya dekat dengan kantor.
Saya pun mampir ke toko itu sebelum ke ippo. Bertanya tentang beberapa barang yang saya inginkan. Mahallll, saya pun hanya membeli satu flashdisk, padahal tadi saya menanyakan beberapa barang. 
Langsung menuju ke ippo. Ternyata cukup murah, 10 ribu sudah dapat satu ayam, dada yang cukup besar. 
Saya kembali ke kantor dan langsung memakan lauk yang sudah saya beli tadi.
Selesai makan saya istirahat sebentar, berusaha untuk melihat apa yang sedang terjadi dan memikirkan apa yang akan terjadi.
Setelah istirahat saya menambahkan beberapa materi lagi di buku saya. Setelah itu baru mulai menulis artikel harian. Rencananya. 
Saya langsung menambahkan beberapa kata lagi ke buku saya. Setelah saya rasa cukup, saya langsung menulis artikel harian saya. 
Muncul notif telegram dari mbak Indah, setelah saya baca, benar kann salah pahamm mbak Indah. Hmmm.
Saya pun menjelaskan dan akhirnya dia memberikan tugas lagi ke saya, menulis alamat. Ya sudah saya bermaksud segera mengerjakannya. Tapi tiba-tiba koneksi remote saya DC. 
Akhirnya saya merestart semua, VM saya dan laptop saya. Saya harap sih setelah restart bisa kembali normal lagi. Kembali menyala, saya langsung menyalakan VM saya kembali, tapi malah update, haduhhh. Tambah lama lagi dahhh.
Saya pun meminta maaf ke mbak Indah mungkin nanti pengerjaannya akan sedikit lama. Mbak Indah membalas, santai saja katanya. Saya tidak bisa santai, emosi saja bawaannya. Akhirnya kembali normal lagi setelah updatenya selesai. 
Saya pun segera mengerjakan tugas dari mbak Indah, secepat mungkin. Berusaha agar tidak terlalu lama membuatnya, karena waktu menulis artikel saya sudah terpotong. 
Selesai sudah akhirnya, saya pun segera menulis artikel harian saya. Saat itu sudah jam setengah empat, satu jam lagi waktunya untuk pulang. Dan saya baru mulai menulis. 

Sudah hampir waktunya untuk pulang, mungkin hanya kurang 15 menit lagi. Dan saat itu mendung sekali, sampai gelap, seperti sudah mau malam. 
Saya dipanggil mas Afandi, saya disuruh keluar untuk membeli soda api di toko bangunan. Saya tidak tahu tempatnya, saya pun disuruh untuk mengajak Bayu. Segera berangkat, saya agak sedikit ngebut karena taukut kehujanan. 
Sampai saya langsung membeli soda api, “untuk saluran mampet yaa”, saya jawab saja iya, karena yang menyuruh mas Fandi dan juga dia sedang mengurusi saluran air yang mampat.
Setelah mendapatkan barangnya saya segera kembali ke kantor, agak sedikit ngebut lagi, karena memang saya tidak mau kehujanan. Sampai di kantor saya langsung memberikan barang itu ke mas Fandi. Saat itu sudah waktunya untuk pulang.
Saya bingung mau pulang atau tidak, karena diluar sangat mendung, jujur saya takut. 
Saya menunggu sebentar, kalau tidak hujan saya pulang, tapi kalau hujan saya tunggu sampai reda dulu. 
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya saya memutuskan untuk pulang, memberanikan diri. 
Saya takut, karena mendung yang sangat gelap, takut kalau sampai banjir ditengah perjalanan, ditambah dengan petir.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *