Hari Ke-10 PKL: Pertama Kali Naik Lift

Hasil gambar untuk lift

Hari ini, Jum’at 17 Januari 2020 merupakan hari kesepuluh sekaligus penutup minggu kedua saya PKL di Excellent.

Saya berangkat jam 7.40. Hari ini saya menggunakan kaos yang diberikan pak boss Jum’at kemarin, kaos khusus untuk karyawan Excellent, terima kasih pak boss.

Di jalan lalu lintas lumayan lancar walau sangat ramai, tapi tidak sampai macet. Tidak ada kejadian apa-apa di sepanjang jalan. Mungkin karena hari ini hari Jum’at. Banyak orang bilang jika hari Jum’at itu banyak berkahnya. Mungkin saja.

Sampai di kantor sekitar jam tujuh lebih sepuluh menit. Begitu sampai saya sangat terkejut karena kantor masih terkunci semua. Biasanya sudah dibuka dan ada bang Gun yang sedang bersih-bersih. Tidak tahu kenapa dan saya menunggu saja diluar sampai bang Gun datang.

Tidak lama setelah itu bang Gun datang dan langsung membuka kunci pintu. Saya pun langsung masuk dan menunggu di lobby sampai mbak Rahmi datang. Sambil menunggu saya membuka laptop sambil mengecek email. Ada email masuk dari pak boss yang isinya ucapan terima kasih tentang laporan kemarin. Saya langsung menjawab email tersebut.

Selesai mengecek email, karena baterai laptop saya mau habis saya mematikan laptop saya dan menunggu sambil bermain HP. Sudah diperingatkan sama Pak boss untuk menunggu didepan sambil mengecek email atau yang lainnya, tapi laptop saya low dan mbak Rahmi datang. Yang penting saya sudah membalas email dari pak boss.

Mbak Rahmi akhirnya datang dan saya langsung duduk di tempat duduk saya. Karena tidak ada perintah dari pak boss maupun mas Ridwan . Langsung saja saya melanjutkan belajar saya mengenai ansible. Rencana saya hari ini akan mempraktekkan tentang ansible module. 

Ketika sedang belajar, mas Ridwan datang dan menanyakan tentang tugas dari pak boss kemarin. Saya disuruh untuk menanyakan tentang itu ke pak boss, karena saya tidak boleh belajar yang lain dulu sebelum memahami tentang outline. 

Saya langsung bertanya kepada boss lewat telegram. Kata boss saya masih belum nyambung tentang dengan instruksinya, masih menggunakan bahasa teoritis katanya. Dan saya masih akan di briefing katanya, tapi hari ini boss tidak datang karena istrinya sedang sakit dan dirawat di RS Hermina. Dan saya hari ini hanya disuruh untuk melanjutkan belajar tentang ansible. 

Saya langsung mengerjakan apa yang disuruh boss, sampai jam menunjukkan waktunya untuk shalat Jum’at. Sampai selesai shalat jum’at semua karyawan langsung berkumpul untuk makan bersama yang dipimpin oleh mas Ahmad. Menu hari ini adalah tarwud katanya, saya tidak tahu itu makanan apa. Dilihat dari bentuknya sihh ayam bakar. Selesai makan saya langsung melanjutkan belajar ansible. 

sekitar jam 3 saya mulai menulis blog harian saya. Tapi saya diajak untuk menjenguk istri boss yang sedang sakit di RS. Saya pun terpaksa untuk melanjutkan menulis di rumah. 

Rumah sakit Hermina tempat bu boss di rawat tidak terlalu jauh dari kantor, sekitar 3-4km. Saya sangat terkejut ketika sudah sampai di rumah sakit itu. Tempatnya sangat besar. Untuk menuju ke kamar bu boss yang ada di lantai 4 bisa menggunakan lift atau tangga. Hmmm, lift, gimana ya rasanya naik lift. Itu yang ada di pikiran saya saat itu. Saya langsung saja masuk bersama tim yang lain. Dan disitulah saya merasakan bagaimana rasanya naik lift. Pertama lift tidak mau naik karena kelebihan muatan, ada sebagian tim yang keluar. Dan lift pun langsung naik. 

Rasanya sangat aneh pas lift menuju ke atas. Seperti bergerak ke atas tapi ada yang menahan. Apa mungkin karena berat badan saya, atau memang karena itu pertama kali saya naik lift jadi perasaan saya agak aneh. Entah lahh. 

Ketika naik itu saya sambil berpegangan di pegangan yang ada di pinggir. Saya ditanya oleh mas Ridwan kenapa kok bertingkah aneh seperti itu. Saya bilang ini pertama kali saya naik lift. Tim yang lain juga mengatakan bahwa muka saya pucat, mengatakannya sambil tertawa, mungkin karena  tingkah saya yang terlihat  lucu. Saya sedikit malu karena ditertawakan, tapi saya juga ikut tertawa.

Setelah sampai di lantai 4 semua langsung keluar dari lift dan menuju ke kamar bu boss. Ketika di dalam, peristiwa tadi pun menjadi bahan omongan oleh semua orang. “Cuma sampai lantai 4 aja takut apa lagi kalau diajak kunjungan ke kantor besat yang lantainya sampai 30an” kata pak boss. Kami mengobrol sampai jam 6 dan mas Afandi berpamitan ke pak boss dan bu boss. Semua pulang, dan saya pun juga ikut pulang.

Ketika turun juga naik lift. Berbeda pada saat keatas. Lift ke bawah rasanya seperti terjatuh kebawah dan ada yang tertinggal diatas. Hmmm, aneh rasanya.

Itu merupakan pengalaman pertama saya naik lift. Semoga saja naik lift yang kedua kalinya tidak menjadi bahan tertawaan lagi.

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *