Hari Ke-46 PKL: Kembali Lagi

Hasil gambar untuk come back again
Hari ini Senin, 09 Maret 2020 saya akhirnya bisa kembali masuk PKL lagi, setelah dua hari tidak masuk kemarin karena sakit. Mungkin akan saya ceritakan sedikit kronologi ketika saya drop minggu lalu.
Flashback:
Hari Rabu, 04 Maret 2020, sehabis saya dari DJ saya langsung ke kantor. Ketika sampai sudah saatnya untuk pulang, saya merasa saat itu badan saya sudah berteriak untuk segera diistirahatkan setelah seharian dipakai untuk pekerjaan yang cukup berat. Banyak pekerjaan di DJ yang harus diselesaikan, ada 6 buah PC yang harus segera dicek dan diperbaiki. Total sudah ada 3 PC yang selesai saya perbaiki hari itu, dan tinggal 3 PC lagi, yang sepertinya 3 PC itu yang paling parah. Dan ketika saya membongkar PC keempat pak boss menyuruh untuk kembali ke kantor saja, karena sudah sore.
Saat sudah berada di kantor rasanya sudah tidak karuan, capek, gerah, pusing, kusut, acak-acakan, sampai-sampai muka saya agak memerah. Langsung saja setelah saya istirahat sebentar, saya langsung ajak Bayu pulang, karena memang jam sudah menunjukkan waktu untuk pulang. Saya belum sempat membuka laptop saya pada saat itu, jadi belum menulis apa-apa.
Di sepanjang perjalanan pulang rasanya ingin cepat-cepat sampai dirumah, kepala panas, pusing, etc. Saya pun menarik gasnya tidak tanggung-tanggung, gasss teruss…
Dan juga saya saat itu agak sedikit emosian, semua pengendara di mata saya salah semua pada saat itu, seperti saya yang paling benar sendiri. Ada yang ngerem mendadak langsung ngedumel, ada yang slanang-slonong langsung ngedumel, tapi ngedumelnya didalam hati, paling raut mukanya saja yang menampilkan ekspresi yang tidak enak, kecut. Apa lagi saya menyadari Bayu dibelakang sedang mengantuk, yang helmnya sudah mulai offside, menabrak helm saya. Saya semakin emosi, semakin menjadi pula saya ngegasnya, mungkin dua kalinya yang tadi.
Alhamdulillah sampai di rumah selamat sentausa, tidak ada halangan sesuatu apapun :v. Saat itu saya sudah tidak tahan lagi, yang tadinya panas malah jadi dingin. Gembreges kalau bahasa Jawanya. Saya langsung masuk ke kamar, meletakkan tas, dan langsung menempatkan diri di kasur. Note: Belum ganti, belum lepas jaket, masih bau keringat. Saat itu rasanya sangat dingin, gembreges tadi. Tidurnya telungkup, sambil menggerak-gerakkan kaki yang rasanya sangat dingin. Dalam posisi seperti itu sampai kurang lebih jam 7, walaupun kelihatannya tidur tapi saya saat itu tidak bisa tidur sama sekali, yang dirasakan hanya dingin.
Sekitar jam setengah 8 saya coba paksakan untuk bangun, mau mandi. Pada saat keluar kamar biasa saja, hanya agak kliyengan. Begitu keramas rasa kliyengan itu semakin menjadi, sampai-sampai saya harus jongkok agar tidak ambruk. Setelah mandi saya makan, tidak terlalu banyak, mungkin hanya setengah porsi dari yang biasanya. Saya awalnya ikut berkumpul bersama dengan yang lainnya, tapi rasa gembreges tadi datang lagi, saya pun kembali ke kamar, tidur menggunakan selimut. Tapi selimut itu rasanya tidak terlalu berfungsi, rasa dinginnya masih ada, saya pun kembali memakai jaket yang tadi, agak mendingan rasa dinginnya.
Saat itu saya langsung teringat kalau saya belum menulis laporan untuk hari itu, saya pun segera mencari laptop saya, dan menulis laporan dalam posisi tidur. Agak memaksa memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Selesai menulis laporan saya langsung kembali tidur lagi. Sampai tengah malam saya terbangun, rasanya gerah tapi dingin bercampur dengan pusing, saya ke ruang tamu untuk mencari kipas, kakak saya sedang menonton TV, dan menyadari saya yang sedang tidak enak badan itu. Kakak saya langsung menyuruh saya untuk minum obat, obat toko. Saya pun meminum obat yang diberikan kakak saya itu, dan duduk didepan kipas sambil menonton film apa yang sedang ditonton kakak saya.
Rasa gerah sudah lumayan hilang, saya kembali lagi ke kamar untuk tidur. Tidak ada masalah saat itu, saya langsung mengambil posisi tidur yang paling enak. Tapi saya masih tetap terjaga, tidak bisa tidur, sampai akhirnya ketiduran juga. Mungkin saat itu sudah dini hari, suasana sangat sepi soalnya.
Ketika sudah pagi, saya terbangun sekitar jam 5 mungkin. Tapi karena rasanya tidak kuat untuk bangun, saya hanya ada pada posisi yang sama sampai saya ketiduran lagi. Bangun lagi ketika jam 6, rasanya sama seperti tadi, tidak kuat bangun, akhirnya saya hanya dalam posisi yang sama, menunggu sampai semua orang bangun. Bayu sudah selesai bersiap-siap, saya masih dalam posisi yang sama, mencoba untuk bangun tapi tidak kuat. Akhirnya keputusan pun dibuat, saya tidak masuk kerja hari itu. Bayu berangkat naik ojol, disuruh naik motor sendiri tidak mau.
Seharian saya hanya tidur di tempat yang sama, bangun terpaksa hanya untuk menuruti omongan perut yang tidak bisa dikompromi, makan pun tidak ada rasa, tenggorokan saya rasanya sakit jika digunakan untuk makan atau minum. Keadaan begitu terus sampai sore, semuanya sudah pulang dari kerja, saya juga sudah agak mendingan, tapi masih kliyengan. Saya akhirnya diajak kakak saya untuk ke klinik terdekat dari rumah, klinik Milenium. Kemarin saya ke klinik itu, mengantar istri kakak saya, sekarang giliran saya yang diantar ke klinik itu, hmmm.
Menunggu di klinik lama sekali, lumayan banyak yang mengantri, apalagi pas menebus obat. Tak lupa saya juga meminta surat keterangan tidak masuk untuk hari itu dan hari berikutnya, karena saya belum begitu yakin kalau besuknya sudah akan sembuh. Pulang dengan obat ditangan, sampainya dirumah saya langsung meminum obat itu, ada 3 obat yang harus diminum, yang dua obatnya besar sekali, saya jadi agak ngeri kalau obat itu tidak bisa tertelan.
Setelah minum obat saya langsung tidur, berselimut dan berjaket. Keesokan harinya sudah agak mendingan, tapi masih kliyengan dan juga jika terlalu lama duduk atau berdiri rasanya seperti pusing dan tidak kuat, jadi hari itu saya tidak masuk lagi. Saya sudah memberikan surat dari dokter itu kepada Bayu, yang saya suruh memberikannya kepada mas Ridwan atau mas Afandi, jadi saya istirahat dirumah juga agak tenang.
Hari itu saya mencoba untuk melakukan aktivitas, agar tidak selalu tidur, tapi aktivitas yang kecil-kecil. Tapi kebanyakan waktu juga saya habiskan untuk tidur. Sorenya sudah agak mendingan, saya mencoba untuk mencuci, pakaian yang kotor yang saya pakai minggu ini(nyucinya pakai mesin cuci). Selesai mencuci, saya usahakan untuk mandi tapi menyentuh air sedikit saja rasanya sudah sampai ke ubun-ubun, akhirnya saya hanya membasuh beberapa area saja di badan saya. Setelah itu saya tidur.
Hari berikutnya adalah sabtu dan minggu, jadi saya liburnya 4 hari. Sabtu minggu itu saya sudah beraktivitas dengan normal, sudah tidak terlalu pusing lagi, hanya saja tenggorokan saya yang sakit.
selesai,
Terlepas dari 4 hari diatas hari ini saya sudah bisa masuk PKL. Sudah bisa beraktivitas lagi secara normal. Saya hari ini berangkat jam 7 seperti biasa, menghadapi padatnya lalu lintas yang padat, sampai di kantor melakukan aktivitas seperti biasa.
Setelah melakukan rutinitas tersebut saya langsung membuka laptop saya, yang kemarin habis terkena musibah, kesiram teh. Yang membuat keyboardnya error, hanya sebagian saja yang bisa, saya pun menggunakan virtual keyboard yang ada di windows untuk menggantikan keyboard laptop yang rusak itu.
Cukup susah untuk mengetik menggunakan virtual keyboard itu, harus mengklik satu persatu huruf yang ada di monitor menggunakan mouse. Mungkin saya lebih memilih tidak memakai mouse daripada keyboard.
Pertama saya membaca beberapa artikel di feedly, yang sudah saya tinggalkan 4 hari terakhir ini. Hanya membaca, tidak memerlukan keyboard untuk melakukannya.
Setelah membaca beberapa artikel saya langsung membuka kembali file project PKL saya, yang sudah terbengkalai juga selama 4 hari ini. Melakukan beberapa pengeditan dan perbaikan, yang sangat sulit dilakukan menggunakan keyboard virtual tersebut. Memerlukan waktu yang lama untuk mengetik satu paragraf saja.
Ada satu masalah lagi yang harus dilewati, yaitu bergantian adaptor laptop dengan Bayu, ya adaptor laptop saya rusak. Dan saya harus menggunakan adaptor Bayu untuk mengecas laptop, untung saja sama adaptornya. Ketika laptop saya mau kehabisan daya, adaptor masih digunakan oleh Bayu, dan saya pun terpaksa harus menunggu sampai laptop Bayu itu penuh, saya menunggu sampai laptop saya benar-benar mati, dan laptop Bayu belum juga penuh. Saya hanya slide slide tokopedia mencari barang yang dibutuhkan laptop saya.
Akhirnya laptop Bayu penuh, saya langsung menggunakan adaptor miliknya untuk mengecas laptop saya. Sambil menggunakannya untuk melakukan pekerjaan yang tadi. Ketika sedang melakukan beberapa pengeditan, saya mendapat telegram dari mbak Ami, saya disuruh untuk membuat alamat, dan dia juga sudah melampirkan beberapa file yang dibutuhkan. Saya disuruh untuk melakukannya sehabis istirahat. “waduhhh”. Keyboard saya sedang tidak bisa digunakan, malah ada tudas mengetik. Hmmm…
Waktunya istirahat akhirnya datang juga, saya sebelumnya sudah scroll scroll di aplikasi gojek, tapi masih bingung mau makan apa, karena gak mau bingung-bingung lagi saya hanya pergi ke warteg dengan Bayu. Makan di warteg memang solusi yang terbaik
Setelah saya makan di warteg saya langsung kembali ke kantor, sebenarnya sudah sangat bosan saya makan di warteg terus, tapi mau makan yang lain juga nggak tau apa. Sampai di kantor saya langsung duduk di tempat saya, sambil membuka HP, membalas beberapa chat yan di WA. 
Saat itu juga ada tamu, saya tidak tahu itu siapa, tapi sepertinya sangat akrab dengan Excellent. Dulu juga pernah kesini, bertemu dengan boss, sekarang pun sama, bertemu dengan boss juga. Selalu membawa makanan jika kesini, yang sebelumnya membawa kue pisang, dan sekarang membawa sale pisang. 
Tiba di suatu percakapan dimana pak boss menawarkan kopi ke tamu tersebut. Saya berfirasat akan disuruh untuk membelikannya. Benar saja, saya disuruh untuk membelikan kopi tersebut, untung saja warung kopi ada persis di sebelah kantor Excellent. Saya menuju ke warung kopi tersebut, langsung memesan apa yang dipesan pak boss tadi. Saya itu orangnya jarang berbicara, bahkan mungkin jika tidak diajak bicara  atau disuruh untuk berbicara saya tidak akan berbicara, paling hanya bergumang, berkata yang tidak jelas tapi lirih. Alhasil ketika saya bicara, memesan kopi pesanan tadi saya agak sedikit glagepan, agak malu juga sama yang melayani.
Setelah selesai dengan pesanan itu saya kembali ke kantor, memberikan kopi tersebut kepada pak boss. 
“lahh kok cuma dua?” kata pak boss. 
“tadi kan suruhnya pesan dua pak, satu kopi susu sama satu lagi kopi gula aren” saya menjawab. 
“lah kamu mana, kan tadi saya suruh untuk beli buat kamu sendiri?” tambahnya lagi. 
“Saya nggak usah pak,” jawab saya
Mas Akoy sama mas Ahmad ikut ngomong, tapi saya tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka katakan.
“Balik lagi, beli dua lagi buat saya” perintah pak boss.
Sayapun kembali ke warung kopi tersebut dan memesan dua kopi susu. Kali ini sudah lancar memesannya, “mass, pesen lagi, kopi susunya dua” saya memesan. Langsung membayar dan kopi pun segera dibuatkan.
Setelah selesai saya kembali ke kantor dan menyerahkan kopi tersebut kepada pak boss. Pak boss mengambil satu dan yang satunya lagi diberikan kepada saya. Saya langsung berterima kasih kepada pak boss, dia berkata lagi tapi saya tidak terlalu memperhatikan, mungkin cuma bercanda. Diikuti oleh tawa seluruh karyawan.
Saya langsung kedepan menyerahkan kembalian kepada mbak Ami, dan mencatat apa yang saya beli tadi di suatu catatan khusus untuk mencatat pengeluaran.
Saya kembali ke tempat duduk, mengambil kopi susu tersebut dan mulai meminumnya. Seperti apa sih rasanya kopi yang harganya 15 Ribu. Ternyata sama saja seperti kopi biasanya, kopi kopi yang sudah saya coba selama ini, pait. Tapi ada rasa manis dari susu. 
Kemudian saya memikirkan apa yang harus saya lakukan untuk mengerjakan tugas dari mbak Ami. Saya pun bertanya kepada mas Afandi, bertannya apakah ada keyboard yang boleh dipinjam. Mas Afandi menjawab tidak tahu, saya disuruh untuk bertanya kepada mas Raihan tentang itu. Saya langsung bertanya kepada mas Raihan apakah ada keyboard yang boleh dipinjam. Mas Raihan menjawab ada, tapi di ruangan atas yang sedang dipakai untuk training. Saya pun terdiam, mas Dhen pun menyaut, bertanya apa, saya langsung menjelaskan apa kemauan saya, dia langsung membuka tasnya, mencari keyboard wireless kecil yang sering dia pakai untuk dipinjamkan ke saya. Karyawan lain pun ikut menyaut, “hati-hati itu keyboard mahal” saya jadi agak merinding memegangnya, wkwk. 
Saya kembali ke tempat saya, dan membuka keyboard itu, menyambungkannya ke laptop saya. Cukup mudah sebenarnya, tapi saya saja yang terlalu kudet. Saya sampai dibantu mas Dhen untuk menyambungkannya. 
Keyboardpun tersambung. First Experience menggunakan barang yang mahal, ternyata memang benar ketika harga berbicara langsung terasa kualitasnya, keyboard bawaan laptop saya rasanya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keyboard milik mas Dhen itu. 
Segera saya mengerjakan tugas dari mbak Ami, tugas mengetik alamat. Ternyata cukup mumet juga jika belum terbiasa. Mengurutkan, mencari, mengetik, mencocokkan. Ada beberapa yang tidak ada di daftar tersebut, jadi saya menanyakannya langsung ke mbak Ami. 
Cukup lama saya mengerjakan itu, begitu selesai saya melihat sudah jam setengah 3 sore. Waww, cepat sekali. Begitu selesai saya langsung mengirimkan dokumen itu ke mbak Ami, selesai. 
Setelah tugas dari mbak Ami selesai, saya langsung berniat untuk menulis artikel harian saya, rasanya sudah banyak sekali hal yang menumpuk di pikiran saya ini yang pengen saya ceritakan di artikel ini. Saya langsung memulai menulis setelah 4 hari tidak menulis. Mungkin ini akan menjadi artikel yang panjang. Pikir saya.
Agak sulit untuk beradaptasi dengan keyboard baru itu, mencoba untuk mencari posisi yang pas untuk mengetik, gesar geser. Seperti itu terus sampai menemukan posisi yang lumayan enak untuk mengetik. Keyboardnya enak, tapi sayanya saja yang belum terbiasa dengan bentuk tombolnya yang bundar.
Ketika sedang menulis, saya mendengar obrolan yang berasal dari depan, di lobby, yang menyebut nama saya. Sudah pasti ada tugas lagi untuk saya. Benar saja tidak lama setelah itu ada telegram masuk dari mbak Fitra, menyuruh saya untuk memfotocopy satu dokumen. Tidak jauh dari kantor ada tukang print. Langsung saja saya meminta dokumen mana yang harus difotocopy dan langsung menuju ke tempat fotocopy tersebut.
Sampai di tokonya sepi, tidak ada orang. Saya panggil-panggil tidak ada tanda-tanda kehidupan, padahal toko itu buka. Saya memanggil sudah beberapa kali, sambil menunggu agak lama, tapi tetap tidak ada tanda-tanda kehidupan. Saya pun akhirnya kembali ke kantor dengan tangan kosong, tidak ada hasilnya. Saya bertanya dimana lagi ada tukang fotocopy, tapi mbak Ami bilang nanti saja. Ya sudah saya langsung kembali ke tempat duduk saya, melanjutkan menulis artikel hari ini. 
Sudah jam 5 dan artikel saya mungkin baru setengah jadi, sudah bisa ditebak jika tidak akan selesai saat itu juga. Ketika sudah hampir waktunya untuk pulang, saya mendapat telegram dari mbak Ami lagi, saya disuruh untuk ke JNE, mengantarkan dokumen. Saya langsung kedepan mengambil dokumen itu, mas Andes menyuruh saya bertanya sesuatu, tentang nomor yang digunakan untuk mendaftar menjadi member JN…. saya lupa, pokoknya nomor untuk mendaftar menjadi member.
Saya segera ke JNE mengantar dokumen tersebut. Saya jalan kaki, JNE tidak terlalu jauh dari kantor. Sampai di JNE ada 2 orang yang juga sedang menunggu, saya pun juga menunggu giliran saya. Duduk sambil mengamati sekitar.
Akhirnya sampai pada giliran saya, saya segera memberikan dokumen tersebut, dan meminta nomor yang tadi. Saya bingung yang dimaksud mas Andes itu apa, saya hanya meneruskan kata-kata mas Andes tadi kepada mas mas JNE. Dia pun juga kelihatan bingung, jadi sama-sama bingung, haduhh. Akhirnya dengan agak sedikit ragu, mas mas itu menjawab untuk mendaftar dulu di suatu website. Saya pun berterima kasih dan langsung kembali ke kantor, langsung menuju ke mas Andes mengatakan apa yang dijelaskan mas mas JNE tadi. 
Mas Andes pun kelihatannya juga kurang puas dengan jawaban yang saya berikan itu, tidak seperti yang dia maksud sepertinya. Ya sudah mas Andes mau tanya sendiri katanya. 
Saya kembali ke tempat duduk saya, saya melihat mas Dhen sudah rapi, sudah siap untuk pulang. Saya pun bertanya ke dia apakah akan segera pulang. Awalnya dia mengijinkan saya untuk membawa keyboard itu pulang, tapi katanya keyboard itu mau dipakai malam nanti. 
Jadi saya segera memberesi keyboard mas Dhen dan segera mengembalikannya sambil mengucapkan terima kasih. Saya bingung mau melanjutkan menulis bagaimana, akhirnya saya memutuskan untuk pulang dulu, mungkin kakak saya sudah pulang, saya bisa memakai laptopnya untuk menulis. Saya segera beres-beres, persiapan untuk pulang. 
Setelah beres-beres saya langsung bersalaman kepada seluruh karyawan yang masih ada di kantor, dan langsung pulang. Di perjalanan mampir Alfa dulu, Bayu ada sesuatu yang ingin dibayar katanya. 
Sampai dirumah ternyata dugaan saya tepat, kakak saya sudah pulang, jadi saya bisa melanjutkan menulis. Saya melanjutkan menulis sampai selesai dirumah. Selesai menulis artikel saya langsung membuat laporan untuk dikirimkan ke pak boss. 
Akhirnya selesai semua tugas hari ini, saya bisa beristirahat dengan tenang.

7 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *