Hari Ke-37 PKL: Sebuah Penderitaan Yang Lengkap

Hari ini Selasa, 25 Februari 2020 mungkin menjadi hari yang paling buruk selama saya di Jakarta ini. Mulai dari pagi ketika ingin berangkat hujan sudah menyambut. Ketika di jalan genangan air yang cukup dalam juga menyambut, ditambah lagi bertemu seorang pengendara motor lain yang lumayan rese (ngomong-ngomong gak jelas). Cipratan air dari kendaraan lain. Ranjau yang berada di bawah genangan air, membuat saya menjadi ekstra berhati-hati.

Ketika sampai kantor, yang tadinya dari rumah sudah sangat rapi (menurut standar saya), berubah 180°. Rambut acak-acakan, jaket basah, celana basah, sandal basah (tidak tahu gimana jadinya kalau saya pakai sepatu). Saya segera masuk kedalam, dalam keadaan seperti itu tadi. Sudah ada mas Irul yang sedang mengurus sesuatu dan juga mas Arif yang sedang sarapan. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang 5 kalau tidak salah. Yang datang baru 5 orang, mas Irul, mas Arif, mbak Erni, mang Gun, mas Andes. Sepertinya kebanyakan karyawan terkena banjir. 
Saya langsung ke dalam untuk melepaskan tas dan jaket saya. Keadaannya gelap, sepertinya mati listrik, saya bertanya kepada mas Arif, dan ternyata benar, memang sedang mati listrik. Saya segera menuju ke belakang untuk mencuci muka, tangan, dan kaki. Habis melewati rintangan yang cukup berat soalnya :v. 
Setelah itu saya kembali ke tempat saya sambil mengambil beberapa tisu, berusaha untuk mengeringkan celana saya yang masih basah. Habis beberapa tisu tapi celana saya belum kering, yang tadinya sangat basah setelah dilap dengan tisu menjadi agak basah. 
Hasil gambar untuk kipas angin kecil
“Mungkin keadaan seperti itu sudah biasa bagi orang-orang yang hidup disitu. Tapi hal itu menjadi sesuatu yang baru bagi pendatang seperti saya.”
Kemudian mas Dhen datang, sambil sedikit tertawa dengan kelakuan saya saat itu. Dia juga mengeluh tentang banjir, yang mengharuskan dia mencari jalan memutar. 
Saat itu internet di kantor mati, jaringan di HP saya juga mati, karena satu hal. Mati listrik. Saat itu saya hanya mengipasi celana saya dan sambil mendengarkan obrolan karyawan lain, sebagian besar obrolan itu hanya membicarakan soal banjir. 
Dari mulai DJ yang sudah terendam banjir, rumahnya mas Raihan juga sudah terkena, rumah mbak Ami yang sudah sedengkul, dan yang terakhir rumah mas Fajar yang motornya sampai terendam. 
Mungkin semua itu dibahas di group all, tapi karena tidak ada internet telegram saya tidak bisa diakses. “waiting for network…”
Setelah itu mas Afandi datang, ketika dia masuk ternyata dia hanya menggunakan celana kolor berwarna merah. Sangat berbeda dengan penampilan biasanya. Mas Dhen pun bilang “Habis main bola dimana mas?” sambil sedikit tertawa. Mas Afandi pun juga ikut tersenyum dan langsung menuju keatas. Mau ganti pakaian sepertinya.
Setelah cukup lama saya ada di posisi seperti itu, saya kemudian berpindah tempat ke sofa yang ada di dalam, sudah ada mang Gun yang menunggu didepan. Tapi posisi saya masih sama seperti tadi, hanya tempatnya yang berbeda.
Tim yang datang hanya sebagian mungkin, atau malah tidak ada segitu. Mas Ridwan, mas Dhen, mas Afandi, mas Arif, mas Andes, mbak Erni, mang Gun, dan mas Irul. Kalau tidak salah hitung tadi. Yang tidak datang alasannya rata-rata karena hal yang sama, yaitu banjir. 
Setelah cukup lama saya ada di posisi seperti itu. Yang tadinya agak basah menjadi agak tidak basah. Padahal mungkin sudah sekitar satu jam saya kipasi seperti itu, dan juga kipas yang saya pinjam tadi sampai kehabisan baterai. 
Akhirnya saya duduk di tempat saya, dan langsung membuka laptop saya. Tinggal setengah daya yang tersisa. Saya pun bingung mau apa, karena tidak ada internet. Mau minta hotspot tapi tidak enak. Saya hanya memandangi laptop saya dan sesekali memainkan game dinosaurus dari google chrome yang muncul ketika tidak ada jaringan itu.
Keadaan seperti itu berlangsung sampai hampir jam 12 siang. Saya sudah mematikan laptop saya karena tidak terlalu berguna juga. Berbagai posisi mulai dari duduk sampai tiduran juga sudah saya lewati. Dari mulai main game dino sampai main game offline di HP juga sudah, untuk menghilangkan rasa bosan. Akhirnya ketika sekitar jam 12 lampu tiba-tiba menyala. Semua tim pun secara serentak berkata “Alhamdulillah”. Hampir bersamaan, saya juga berkata begitu. 
Saat itu sudah waktunya untuk istirahat, saya bingung mau makan apa. Semua tim berencana ingin masak mie bersama, saya juga diajak, tapi kalau mie saya tidak terlalu cocok. Dari mulai hari minggu kemarin saya tidak enak makan rasanya, apa saja yang saya makan rasanya hambar. Begitu pula pada saat makan siang hari ini di warteg. Ada rasanya sedikit, hampir tidak habis saat itu. Dan kepala saya tiba-tiba pusing. Sangat tidak enak rasanya. 
Kembali ke kantor saya tiduran sambil bermain HP, ehh malah ketiduran. Sampai sekitar jam 1 lebih 8 saya dibangunkan oleh Bayu, disuruh mas Ridwan keatas katanya. Dalam keadaan yang setengah sadar saya keatas untuk menemui mas Ridwan, saya kira disuruh apa, ternyata saya ditawarkan mie tadi yang sudah dimasak. Saya menolak karena tadi sudah makan di warteg. Saya kembali ke bawah, dan membuka laptop saya dan mulai memikirkan apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Bingung mau apa, pusing juga belum hilang, ditambah lagi habis bangun tidur. Saya akhirnya membuka website disway.id dan membaca update 3 hari terakhir ini.
Setelah membaca beberapa artikel, saya baru teringat kalau artikel yang kemarin belum selesai. Saya pun mencoba untuk meneruskan menulis artikel harian tersebut. Sudah mentok dan tidak bisa melanjutkan menulis lagi, saya akhirnya membuat kopi. Siapa tahu bisa menghilangkan rasa pusing itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 lebih seperempat, artikel yang kemarin juga hanya bertambah sedikit. Saya memutuskan untuk menulis artikel harian saya di blogger, mempercepat jadwal menulisnya karena nanti takut kalau tidak selesai. 
Mulai menulis sambil minum kopi, kadang-kadang kepanasan karena minum kopinya gak pelan-pelan. Akhirnya kopinya pun habis, dan artikel masih belum selesai. Saya melanjutkan menulis sampai artikel tersebut selesai. Dan akhirnya artikel harian saya itu selesai, sekitar jam 5.25.
Saya kemudian menulis laporan untuk hari ini untuk dikirimkan ke pak boss. Setelah selesai saya langsung beres-beres dan langsung berpamitan kepada seluruh tim untuk pulang.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *